Ranah 3 Warna.
“I’malu fauqa ma ‘amilu.” Hal. 12
Alif baru saja
tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan
Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung
seperti Habibie, lalu merantau sampai Amerika.
Pulang menjadi
ujian pertama yang ia harus jalani, ternyata. Dan itu membuat inspirasi baru
dalam hidupnya. Semangat serupa tim dinamit Denmark. Baru saja dia tersenyum,
badai lain menggempurnya silih berganti.
“Ribuan tahun yang lalu, sekarang, dan di masa depan akan terus ada orang
yang gila ilmu.” Hal.34
Ranah 3 Warna
Buku kedua dari
trilogi Negeri 5 Menara. Karya A. Fuadi. Setelah sukses besar dengan buku
pertamanya, A. Fuadi kembali mengeluarkan karya anyar yang tak jauh dari buku
sebelumnya, Negeri 5 Menara itu sendiri.
Saya suka
membanding-bandingkan. Ia telah menjadi hobi bagi saya. Dan tak luput dari buku
ini.
Mari, kita mulai
membanding-bandingkan. Jika kau mau.
“Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan
menjadi nyata.” Hal. 179
Ditemani sahabat
terbaiknya, Randai, Alif menapaki selangkah demi selangkah hidup di tanah
perantauan. Di kampus jurusan hubungan internasional, tempat itulah takdir
berbicara mengenai Alif. Berbicara bahwa disanalah tempat yang tepat.
Sejujurnya, tidak
hanya Randai saja. Terdapat “tetangga berkilau” yang menjadi salah satu
pendorong terbesar dalam ia meraihnya. Pergaulan Alif mempertemukannya dengan
beberapa orang teman.
Wira.
Agam.
Memet.
Bersama mereka,
Alif hendak bermimpi.
Sudah bermimpi.
Ranah 3 Warna,
berarti tiga tempat yang berbeda. Wow! Ini artinya, Alif berhasil membawa
dirinya di 3 negara berbeda. Ataukah hanya 2 negara saja? Karena salah satu
tempat itu, bisa jadi adalah Kampusnya.
Dan dimana
“tetangga berkilau”nya itu? Akankah, atau bisakah Alif menyatakan perasaannya?
Rupanya mantra man jadda wa jadda saja tiada cukup
sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat mantra kedua yang diajarkan di
Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa
yang bersabar akan beruntung.
Apa hadiah Tuhan
buat sebuah kesabaran yang kukuh?
“Daun maple menggantung di dahan
Menunggu salju datang mendera
Hamba akan teguh bertahan
Mengambil inti man shabara zhafira.” Hal. 332
Setelah saya merampungkannya–sehari cukup waktu
untuk saya menamatkannya saja. Tidak sulit bagi saya membaca buku kedua
terlebih dahulu
–buku pertamanya lebih bagus daripada buku
keduanya.
Negeri 5 Menara lebih bagus daripada Rantau 3
Warna.
As simple as that. Itulah keputusan saya,
setelah menamatkan huruf terakhir dari Negeri 5 Menara. Sebuah keputusan yang
sangat bagus menurut saya. Alasannya sederhana, A. Fuadi di buku pertamanya
telah membuat saya benar-benar hidup dalam gambaran Pondok Madani.
Another reason, kata kakak saya yang baru
pertama kali membaca novel, setelah setengah halaman menamatkan Ranah 3 Warna. Dia
bilang, “Ceritanya kok, ajaib. Terlalu ajaib.”
Saya tersadar.
Well, ini bukan buku yang buruk juga. Apakah semua buku sempura, kan? Kesempurnaan malah ketidaksempurnaan itu sendiri. Mereka saling
menemani, sehingga melengkapi.
Pendapat anda berbeda mungkin?
Selamat membaca, meresapi, dan
membanding-bandingkan.
Spesifikasi:
Judul = Ranah 3
Warna
Genre = Fiksi/Novel
Pengarang = @fuadi1
(angka satu)
Desain dan
Ilustrasi Sampul = Slamet Mangindaan
Terbit = Januari
2011
ISBN = 978-979-22-6325-1
Harga = Rp. 65.000