Entri Populer

Minggu, 05 Januari 2014

Ranah 3 Warna.

“I’malu fauqa ma ‘amilu.” Hal. 12

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai Amerika.
Pulang menjadi ujian pertama yang ia harus jalani, ternyata. Dan itu membuat inspirasi baru dalam hidupnya. Semangat serupa tim dinamit Denmark. Baru saja dia tersenyum, badai lain menggempurnya silih berganti.

“Ribuan tahun yang lalu, sekarang, dan di masa depan akan terus ada orang yang gila ilmu.” Hal.34


Ranah 3 Warna
Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Karya A. Fuadi. Setelah sukses besar dengan buku pertamanya, A. Fuadi kembali mengeluarkan karya anyar yang tak jauh dari buku sebelumnya, Negeri 5 Menara itu sendiri.
Saya suka membanding-bandingkan. Ia telah menjadi hobi bagi saya. Dan tak luput dari buku ini.
Mari, kita mulai membanding-bandingkan. Jika kau mau.


“Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan menjadi nyata.” Hal. 179

Ditemani sahabat terbaiknya, Randai, Alif menapaki selangkah demi selangkah hidup di tanah perantauan. Di kampus jurusan hubungan internasional, tempat itulah takdir berbicara mengenai Alif. Berbicara bahwa disanalah tempat yang tepat.

Sejujurnya, tidak hanya Randai saja. Terdapat “tetangga berkilau” yang menjadi salah satu pendorong terbesar dalam ia meraihnya. Pergaulan Alif mempertemukannya dengan beberapa orang teman.

Wira.

Agam.

Memet.

Bersama mereka, Alif hendak bermimpi.

Sudah bermimpi.

Ranah 3 Warna, berarti tiga tempat yang berbeda. Wow! Ini artinya, Alif berhasil membawa dirinya di 3 negara berbeda. Ataukah hanya 2 negara saja? Karena salah satu tempat itu, bisa jadi adalah Kampusnya.

Dan dimana “tetangga berkilau”nya itu? Akankah, atau bisakah Alif menyatakan perasaannya?

Rupanya mantra man jadda wa jadda saja tiada cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat mantra kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung.
Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?

“Daun maple menggantung di dahan
Menunggu salju datang mendera
Hamba akan teguh bertahan
Mengambil inti man shabara zhafira.” Hal. 332


Setelah saya merampungkannya–sehari cukup waktu untuk saya menamatkannya saja. Tidak sulit bagi saya membaca buku kedua terlebih dahulu
–buku pertamanya lebih bagus daripada buku keduanya.

Negeri 5 Menara lebih bagus daripada Rantau 3 Warna.

As simple as that. Itulah keputusan saya, setelah menamatkan huruf terakhir dari Negeri 5 Menara. Sebuah keputusan yang sangat bagus menurut saya. Alasannya sederhana, A. Fuadi di buku pertamanya telah membuat saya benar-benar hidup dalam gambaran Pondok Madani.

Another reason, kata kakak saya yang baru pertama kali membaca novel, setelah setengah halaman menamatkan Ranah 3 Warna. Dia bilang, “Ceritanya kok, ajaib. Terlalu ajaib.”
Saya tersadar.

Well, ini bukan buku yang buruk juga. Apakah semua buku sempura, kan? Kesempurnaan malah ketidaksempurnaan itu sendiri. Mereka saling menemani, sehingga melengkapi.
Pendapat anda berbeda mungkin?
Selamat membaca, meresapi, dan membanding-bandingkan.


Spesifikasi: 
Judul = Ranah 3 Warna 
Genre = Fiksi/Novel 
Pengarang = @fuadi1 (angka satu) 
Desain dan Ilustrasi Sampul = Slamet Mangindaan
Terbit = Januari 2011
ISBN = 978-979-22-6325-1 
Harga = Rp. 65.000 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar