Cuaca
segelap warna. Petir terhujankan, sambil menangis, tentu saja. Ia masih setia
duduk di tepi mata jendela. Jendela tertutup, kedap, tetapi mata itu tetap
memperlihatkan kebenaran di luar tanpa harus membukanya, mendengarnya
berdendang dengan petir.
Ia
masih duduk diam
Gugus
bintang tertutup oleh awan. Hujan tak tertahankan, turun begitu saja. Ia masih
duduk disana. Meunggu dalam diam.
Bulan
tak tampak dalam mendung. Hujan terlewatkan. Ia masih duduk diam.
Pintu
terketuk kencang dalam cuaca segelap ini. Ia masih duduk diam.
“Halo,
ini aku Hujan.”
Ia
masih duduk diam.
Halo,
perkenalkan saya Hujan.
Saya
datang bersama Musim, sedangkan ketika Musim pergi saya tidak boleh ikut.
Halo,
perkenalkan saya Hujan, saya mencintai Musim.
Ketika
musim membawa saya pergi pertama kali, ia pernah berucap, “Aku Musim. Ayo kita
pergi. Aku akan membawamu berkeliling dunia.”
Saya
waktu itu belum mencintai Musim. Ia terlalu hebat membebat tubuh saya. Musim
terlalu tinggi untuk mimpi saya waktu itu.
Pertama
kali, sehabis perjalanan panjang itu, Musim mengajari saya membuat hujan.
“Ah,
Namamu dulu siapa?”
“Air.”
“Ah,
Air, bergantilah nama menjadi Hujan.”
“Kenapa?”
“Ah,
Hujan itu terdengar sempurna.”
“Panggil
aku “Hujan”, Musim.”
“Hujan.”
“Musim,
Saya belum mengetahui bagaimana jikalau air saya habis. Apakah saya akan bisa
tetap membuat hujan?”
Musim
terlalu kentara menyembunyikan. Ia bagai ratapan. Seperti yang selalu saya
alami jikalau Musim pergi.
“Ah,
Hujan, maafkan aku. Itu tandanya, aku harus pergi.”
“Aku
boleh ikut, Musim?”
“Tidak.”
Setelah
itu, Musim pergi. Ia tak pernah kembali, selekas enam bulan kemudian. Selekas
itu, ia menjadi bukan Musim yang dulu aku kenal.
Segala
yang dulu pernah dimilikimya selayaknya buih, menghilang.
“Ada
apa, Musim?”
“Aku
sudah semakin tua, Hujan. Sudah hafal, kan?”
Selekas
itu, Ia serupa embun. Setelah, hari menjelang sore, ketika aku bertanya tentang
sesuatu, Musim sudah menghilang.
Musim
telah mati. Musim telah pergi. Musim telah pulang.
Halo,
aku Musim
Aku
mencintai semua orang. Aku tentu disukai semua orang.
Itu
kesempurnaan yang dulu pernah kurasakan.
Setelah,
waktu itu aku meninggalkan Hujan, menuju suatu tempat, yang hanya ada matahari.
Sepanjang tahun, sepanjang bulan, sepanjang hari, sepanjang detik. Ah, tetapi
tentu saja kecuali malam hari.
Oke,
ternyata Matahari disana cantik sekali.
Hangat.
Tidak
seperti yang pernah kutemui di beberapa tempat. Hujan pasti tidak pernah
melihatnya. Ia pasti belum pernah merasakannya.
Aku
bertanya pada rumput, “Bagaimana bisa Matahari sepanjang tahun selalu tampak,
Rumput?”
“Memangnya
siapa yang tahu, kalau berjuta tahun lalu disini dingin, Musim.”
“Kau
selalu pandai. Bagaimana kau bisa tahu?”
“Musim,
Musim, kenapa kau selalu bertanya?”
Aku
murung mendengarnya menjawab begitu. Ia memang sombong sekali. Dimanapun
keturunan Rumput selalu sombong.
Rumput
melanjutkan, “Tetapi Musim, percaya atau tidak percaya. Itu kata Sejarah, waktu
Dia kemari.”
Deg.
“Bagaimana
mungkin Sejarah datang kesini? Hey, Rumput, Sejarah hanya legenda penuh manat
orang tua.”
Sejarah.
“Tidak.
Dia sudah benar-benar kemari. Pria…”
Sejarah.
Dia
sudah kembali.
Selama
Musim pergi, saya selalu ditemani oleh Sejarah. Ia datang sewaktu Musim pergi
untuk pertama kali.
“Halo,
Siapa kau?”
Saya
sedang melamun, “Ah, orang asing. Mengagetkan!”
Ia
mengangsurkan tangannya, “Perkenalkan aku Sejarah. Tampaknya kau kesepian.”
“Ya.
Temanku satu-satunya telah pergi ke tempat lain. Ia baru akan datang selekas
enam bulan lagi.”
“Kau
sepertinya telah menceritakan sedikit hal yang seharusnya tidak diketahui orang
asing.”
“Ya.
Maaf,” Saya tentu murung kembali.
Ia
termenung sekali lagi. Petir tak lagi berbunyi. Ia masih duduk diam.
“Halo,
ini aku Hujan.”
Ia
bergerak, membuka pintu. Pintu itu terbuka hingga kebenaran di belakangnya
terungkap.
Ia
sudah tak ingat apa-apa lagi.
“Halo.
Dengan Hujan di depanmu.”
Ia
sudah tidak ingat apa-apa lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar