Entri Populer

Kamis, 13 Februari 2014

Hujan.

Cuaca segelap warna. Petir terhujankan, sambil menangis, tentu saja. Ia masih setia duduk di tepi mata jendela. Jendela tertutup, kedap, tetapi mata itu tetap memperlihatkan kebenaran di luar tanpa harus membukanya, mendengarnya berdendang dengan petir.
Ia masih duduk diam
Gugus bintang tertutup oleh awan. Hujan tak tertahankan, turun begitu saja. Ia masih duduk disana. Meunggu dalam diam.
Bulan tak tampak dalam mendung. Hujan terlewatkan. Ia masih duduk diam.
Pintu terketuk kencang dalam cuaca segelap ini. Ia masih duduk diam.
“Halo, ini aku Hujan.”
Ia masih duduk diam.

Halo, perkenalkan saya Hujan.
Saya datang bersama Musim, sedangkan ketika Musim pergi saya tidak boleh ikut.
Halo, perkenalkan saya Hujan, saya mencintai Musim.
Ketika musim membawa saya pergi pertama kali, ia pernah berucap, “Aku Musim. Ayo kita pergi. Aku akan membawamu berkeliling dunia.”
Saya waktu itu belum mencintai Musim. Ia terlalu hebat membebat tubuh saya. Musim terlalu tinggi untuk mimpi saya waktu itu.
Pertama kali, sehabis perjalanan panjang itu, Musim mengajari saya membuat hujan.
“Ah, Namamu dulu siapa?”
“Air.”
“Ah, Air, bergantilah nama menjadi Hujan.”
“Kenapa?”
“Ah, Hujan itu terdengar sempurna.”
“Panggil aku “Hujan”, Musim.”
“Hujan.”
“Musim, Saya belum mengetahui bagaimana jikalau air saya habis. Apakah saya akan bisa tetap membuat hujan?”
Musim terlalu kentara menyembunyikan. Ia bagai ratapan. Seperti yang selalu saya alami jikalau Musim pergi.
“Ah, Hujan, maafkan aku. Itu tandanya, aku harus pergi.”
“Aku boleh ikut, Musim?”
“Tidak.”
Setelah itu, Musim pergi. Ia tak pernah kembali, selekas enam bulan kemudian. Selekas itu, ia menjadi bukan Musim yang dulu aku kenal.
Segala yang dulu pernah dimilikimya selayaknya buih, menghilang.
“Ada apa, Musim?”
“Aku sudah semakin tua, Hujan. Sudah hafal, kan?”
Selekas itu, Ia serupa embun. Setelah, hari menjelang sore, ketika aku bertanya tentang sesuatu, Musim sudah menghilang.
Musim telah mati. Musim telah pergi. Musim telah pulang.

Halo, aku Musim
Aku mencintai semua orang. Aku tentu disukai semua orang.
Itu kesempurnaan yang dulu pernah kurasakan.
Setelah, waktu itu aku meninggalkan Hujan, menuju suatu tempat, yang hanya ada matahari. Sepanjang tahun, sepanjang bulan, sepanjang hari, sepanjang detik. Ah, tetapi tentu saja kecuali malam hari.
Oke, ternyata Matahari disana cantik sekali.
Hangat.
Tidak seperti yang pernah kutemui di beberapa tempat. Hujan pasti tidak pernah melihatnya. Ia pasti belum pernah merasakannya.
Aku bertanya pada rumput, “Bagaimana bisa Matahari sepanjang tahun selalu tampak, Rumput?”
“Memangnya siapa yang tahu, kalau berjuta tahun lalu disini dingin, Musim.”
“Kau selalu pandai. Bagaimana kau bisa tahu?”
“Musim, Musim, kenapa kau selalu bertanya?”
Aku murung mendengarnya menjawab begitu. Ia memang sombong sekali. Dimanapun keturunan Rumput selalu sombong.
Rumput melanjutkan, “Tetapi Musim, percaya atau tidak percaya. Itu kata Sejarah, waktu Dia kemari.”
Deg.
“Bagaimana mungkin Sejarah datang kesini? Hey, Rumput, Sejarah hanya legenda penuh manat orang tua.”
Sejarah.
“Tidak. Dia sudah benar-benar kemari. Pria…”
Sejarah.
Dia sudah kembali.

Selama Musim pergi, saya selalu ditemani oleh Sejarah. Ia datang sewaktu Musim pergi untuk pertama kali.
“Halo, Siapa kau?”
Saya sedang melamun, “Ah, orang asing. Mengagetkan!”
Ia mengangsurkan tangannya, “Perkenalkan aku Sejarah. Tampaknya kau kesepian.”
“Ya. Temanku satu-satunya telah pergi ke tempat lain. Ia baru akan datang selekas enam bulan lagi.”
“Kau sepertinya telah menceritakan sedikit hal yang seharusnya tidak diketahui orang asing.”
“Ya. Maaf,” Saya tentu murung kembali.

Ia termenung sekali lagi. Petir tak lagi berbunyi. Ia masih duduk diam.
“Halo, ini aku Hujan.”
Ia bergerak, membuka pintu. Pintu itu terbuka hingga kebenaran di belakangnya terungkap.
Ia sudah tak ingat apa-apa lagi.
“Halo. Dengan Hujan di depanmu.”

Ia sudah tidak ingat apa-apa lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar