Entri Populer

Sabtu, 15 Februari 2014

O' Children by Nick Cave

Pass me that lovely little gun
My dear, my darting one
The cleaners are coming, one by one
You don't even want to let them start

They are knocking now upon your door
They measure the room, they know the score
They're mopping up the butcher's floor
Of your broken little hearts

O children

Forgive us now for what we've done
It started out as a bit of fun
Here, take these before we run away
The keys to the gulag

O children
Lift up your voice, lift up your voice
Children
Rejoice, rejoice

Here comes Frank and poor old Jim
They're gathering round with all my friends
We're older now, the light is dim
And you are only just beginning

O children

We have the answer to all your fears
It's short, it's simple, it's crystal dear
It's round about, it's somewhere here
Lost amongst our winnings

O children
Lift up your voice, lift up your voice
Children
Rejoice, rejoice

The cleaners have done their job on you
They're hip to it, man, they're in the groove
They've hosed you down, you're good as new
They're lining up to inspect you

O children

Poor old Jim's white as a ghost
He's found the answer that was lost
We're all weeping now, weeping because
There ain't nothing we can do to protect you

O children
Lift up your voice, lift up your voice
Children
Rejoice, rejoice

Hey little train! We are all jumping on
The train that goes to the Kingdom
We're happy, Ma, we're having fun
And the train ain't even left the station

Hey, little train! Wait for me!
I once was blind but now
I see Have you left a seat for me?
Is that such a stretch of the imagination?

Hey little train! Wait for me!
I was held in chains but now I'm free
I'm hanging in there, don't you see
In this process of elimination


Harry Potter and The Deathly Hallows.

Kamis, 13 Februari 2014

Hujan.

Cuaca segelap warna. Petir terhujankan, sambil menangis, tentu saja. Ia masih setia duduk di tepi mata jendela. Jendela tertutup, kedap, tetapi mata itu tetap memperlihatkan kebenaran di luar tanpa harus membukanya, mendengarnya berdendang dengan petir.
Ia masih duduk diam
Gugus bintang tertutup oleh awan. Hujan tak tertahankan, turun begitu saja. Ia masih duduk disana. Meunggu dalam diam.
Bulan tak tampak dalam mendung. Hujan terlewatkan. Ia masih duduk diam.
Pintu terketuk kencang dalam cuaca segelap ini. Ia masih duduk diam.
“Halo, ini aku Hujan.”
Ia masih duduk diam.

Halo, perkenalkan saya Hujan.
Saya datang bersama Musim, sedangkan ketika Musim pergi saya tidak boleh ikut.
Halo, perkenalkan saya Hujan, saya mencintai Musim.
Ketika musim membawa saya pergi pertama kali, ia pernah berucap, “Aku Musim. Ayo kita pergi. Aku akan membawamu berkeliling dunia.”
Saya waktu itu belum mencintai Musim. Ia terlalu hebat membebat tubuh saya. Musim terlalu tinggi untuk mimpi saya waktu itu.
Pertama kali, sehabis perjalanan panjang itu, Musim mengajari saya membuat hujan.
“Ah, Namamu dulu siapa?”
“Air.”
“Ah, Air, bergantilah nama menjadi Hujan.”
“Kenapa?”
“Ah, Hujan itu terdengar sempurna.”
“Panggil aku “Hujan”, Musim.”
“Hujan.”
“Musim, Saya belum mengetahui bagaimana jikalau air saya habis. Apakah saya akan bisa tetap membuat hujan?”
Musim terlalu kentara menyembunyikan. Ia bagai ratapan. Seperti yang selalu saya alami jikalau Musim pergi.
“Ah, Hujan, maafkan aku. Itu tandanya, aku harus pergi.”
“Aku boleh ikut, Musim?”
“Tidak.”
Setelah itu, Musim pergi. Ia tak pernah kembali, selekas enam bulan kemudian. Selekas itu, ia menjadi bukan Musim yang dulu aku kenal.
Segala yang dulu pernah dimilikimya selayaknya buih, menghilang.
“Ada apa, Musim?”
“Aku sudah semakin tua, Hujan. Sudah hafal, kan?”
Selekas itu, Ia serupa embun. Setelah, hari menjelang sore, ketika aku bertanya tentang sesuatu, Musim sudah menghilang.
Musim telah mati. Musim telah pergi. Musim telah pulang.

Halo, aku Musim
Aku mencintai semua orang. Aku tentu disukai semua orang.
Itu kesempurnaan yang dulu pernah kurasakan.
Setelah, waktu itu aku meninggalkan Hujan, menuju suatu tempat, yang hanya ada matahari. Sepanjang tahun, sepanjang bulan, sepanjang hari, sepanjang detik. Ah, tetapi tentu saja kecuali malam hari.
Oke, ternyata Matahari disana cantik sekali.
Hangat.
Tidak seperti yang pernah kutemui di beberapa tempat. Hujan pasti tidak pernah melihatnya. Ia pasti belum pernah merasakannya.
Aku bertanya pada rumput, “Bagaimana bisa Matahari sepanjang tahun selalu tampak, Rumput?”
“Memangnya siapa yang tahu, kalau berjuta tahun lalu disini dingin, Musim.”
“Kau selalu pandai. Bagaimana kau bisa tahu?”
“Musim, Musim, kenapa kau selalu bertanya?”
Aku murung mendengarnya menjawab begitu. Ia memang sombong sekali. Dimanapun keturunan Rumput selalu sombong.
Rumput melanjutkan, “Tetapi Musim, percaya atau tidak percaya. Itu kata Sejarah, waktu Dia kemari.”
Deg.
“Bagaimana mungkin Sejarah datang kesini? Hey, Rumput, Sejarah hanya legenda penuh manat orang tua.”
Sejarah.
“Tidak. Dia sudah benar-benar kemari. Pria…”
Sejarah.
Dia sudah kembali.

Selama Musim pergi, saya selalu ditemani oleh Sejarah. Ia datang sewaktu Musim pergi untuk pertama kali.
“Halo, Siapa kau?”
Saya sedang melamun, “Ah, orang asing. Mengagetkan!”
Ia mengangsurkan tangannya, “Perkenalkan aku Sejarah. Tampaknya kau kesepian.”
“Ya. Temanku satu-satunya telah pergi ke tempat lain. Ia baru akan datang selekas enam bulan lagi.”
“Kau sepertinya telah menceritakan sedikit hal yang seharusnya tidak diketahui orang asing.”
“Ya. Maaf,” Saya tentu murung kembali.

Ia termenung sekali lagi. Petir tak lagi berbunyi. Ia masih duduk diam.
“Halo, ini aku Hujan.”
Ia bergerak, membuka pintu. Pintu itu terbuka hingga kebenaran di belakangnya terungkap.
Ia sudah tak ingat apa-apa lagi.
“Halo. Dengan Hujan di depanmu.”

Ia sudah tidak ingat apa-apa lagi

Minggu, 05 Januari 2014

Ranah 3 Warna.

“I’malu fauqa ma ‘amilu.” Hal. 12

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Dia bahkan sudah bisa bermimpi dalam bahasa Arab dan Inggris. Impiannya? Tinggi betul. Ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau sampai Amerika.
Pulang menjadi ujian pertama yang ia harus jalani, ternyata. Dan itu membuat inspirasi baru dalam hidupnya. Semangat serupa tim dinamit Denmark. Baru saja dia tersenyum, badai lain menggempurnya silih berganti.

“Ribuan tahun yang lalu, sekarang, dan di masa depan akan terus ada orang yang gila ilmu.” Hal.34


Ranah 3 Warna
Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Karya A. Fuadi. Setelah sukses besar dengan buku pertamanya, A. Fuadi kembali mengeluarkan karya anyar yang tak jauh dari buku sebelumnya, Negeri 5 Menara itu sendiri.
Saya suka membanding-bandingkan. Ia telah menjadi hobi bagi saya. Dan tak luput dari buku ini.
Mari, kita mulai membanding-bandingkan. Jika kau mau.


“Kalau kita kondisikan sedemikian rupa, impian itu lambat laun akan menjadi nyata.” Hal. 179

Ditemani sahabat terbaiknya, Randai, Alif menapaki selangkah demi selangkah hidup di tanah perantauan. Di kampus jurusan hubungan internasional, tempat itulah takdir berbicara mengenai Alif. Berbicara bahwa disanalah tempat yang tepat.

Sejujurnya, tidak hanya Randai saja. Terdapat “tetangga berkilau” yang menjadi salah satu pendorong terbesar dalam ia meraihnya. Pergaulan Alif mempertemukannya dengan beberapa orang teman.

Wira.

Agam.

Memet.

Bersama mereka, Alif hendak bermimpi.

Sudah bermimpi.

Ranah 3 Warna, berarti tiga tempat yang berbeda. Wow! Ini artinya, Alif berhasil membawa dirinya di 3 negara berbeda. Ataukah hanya 2 negara saja? Karena salah satu tempat itu, bisa jadi adalah Kampusnya.

Dan dimana “tetangga berkilau”nya itu? Akankah, atau bisakah Alif menyatakan perasaannya?

Rupanya mantra man jadda wa jadda saja tiada cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif teringat mantra kedua yang diajarkan di Pondok Madani: man shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung.
Apa hadiah Tuhan buat sebuah kesabaran yang kukuh?

“Daun maple menggantung di dahan
Menunggu salju datang mendera
Hamba akan teguh bertahan
Mengambil inti man shabara zhafira.” Hal. 332


Setelah saya merampungkannya–sehari cukup waktu untuk saya menamatkannya saja. Tidak sulit bagi saya membaca buku kedua terlebih dahulu
–buku pertamanya lebih bagus daripada buku keduanya.

Negeri 5 Menara lebih bagus daripada Rantau 3 Warna.

As simple as that. Itulah keputusan saya, setelah menamatkan huruf terakhir dari Negeri 5 Menara. Sebuah keputusan yang sangat bagus menurut saya. Alasannya sederhana, A. Fuadi di buku pertamanya telah membuat saya benar-benar hidup dalam gambaran Pondok Madani.

Another reason, kata kakak saya yang baru pertama kali membaca novel, setelah setengah halaman menamatkan Ranah 3 Warna. Dia bilang, “Ceritanya kok, ajaib. Terlalu ajaib.”
Saya tersadar.

Well, ini bukan buku yang buruk juga. Apakah semua buku sempura, kan? Kesempurnaan malah ketidaksempurnaan itu sendiri. Mereka saling menemani, sehingga melengkapi.
Pendapat anda berbeda mungkin?
Selamat membaca, meresapi, dan membanding-bandingkan.


Spesifikasi: 
Judul = Ranah 3 Warna 
Genre = Fiksi/Novel 
Pengarang = @fuadi1 (angka satu) 
Desain dan Ilustrasi Sampul = Slamet Mangindaan
Terbit = Januari 2011
ISBN = 978-979-22-6325-1 
Harga = Rp. 65.000